Google+ Followers

Tuesday, August 22, 2017

Catatan Agustus 2017: Seperti Apa Kelak Kita Ingin Dikenang

Agustus 2017,

Peristiwa-peristiwa penting hadir mewarnai hidup. Bukan hanya tentang peringatan 17-an tetapi tentang makna sebauh kepergian. Agustus ini, umur si sulung sudah 13 tahun dan ia untuk keduakalinya "merayakan" jauh dari orang tua karena menuntut ilmu di pondok pesantren nun jauh di sana. Harapan kami ia senantiasa sehat, taat, istiqomah dan kelak lulus dengan husnul khotimah dengan membawa ilmu yang barokah dan bekal akhlakul karimah.

"Ah Mama, aku sekarang kalau lomba Agustusan harus sendirian, nggak ditemani Mas" kata si bungsu. Tapi Alhamdulillah dari empat lomba untuk anak-anak ia berhasil meraih juara 1 lomba memasukkan bolpoin ke dalam botol dan Juara 2 Lomba pinalti

Di acara penyerahan hadiah sekaligus malam tasyakuran 17 an ini hati saya sejujurnya sedang terbelah dua. Antara bersyukur dan gembira melihat si bungsu mencetak prestasi dan mendapatkan hadiah dan sedih plus khawatir mengingat salah seorang sahabat saya, tetangga dekat saya  sedang gundah karena suaminya harus segera dioperasi keesokan lusa. 
Ternyata manusia hanya bisa merancang dan tak punya kuasa. Pagi hari tepat 17 Agustus suaminya berpulang padahal dokter menjadwalkan tanggal 17 sore masuk rumah sakit dan tanggal 18 direncanakan untuk operasi mengangkat batu ginjal. 
Saya sangat sedih melihat sahabat saya berurai air mata. Ketiga anaknya masih kecil-kecil. Tapi dia cukup tabah, bisa berpikir logis dan menerima tamu serta memutuskan pemakaman suami di kampung halaman sesuai kehendak keluarga besarnya. Dia salah satu yang peduli dengan menanyakan kabar ketika suami saya sempat sakit parah beberapa bulan lalu.
Tak ada yang pernah mengira siapa yang akan pergi mendahului. Apakah sang istri, suami atau anak? Kematian tidak memandang usia, tidak menunggu sakit parah atau tanpa gejala. Ia bisa datang sesuka hati tanpa memberikan peringatan sebelumnya.
Kehidupan akherat kekal, setiap insan berharap surga. Layaknya berharap bolpoin yang tergantung di perut bisa masuk ke dalam botol secepat mungkin agar tampil sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah. Siapa sih yang nggak mau hadiah surga? Namun untuk bisa meraih surga tentunya harus fokus, berharap cemas dalam doa seperti saat berupaya mencetak goal sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat mirip lomba tendangan pinalti.

Saya hanya bisa berdoa untuk ketabahan sahabat saya. Ia mungkin akan kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama orang tua lagi mengingat sang suami satu-satunya pencari nafkah meski sahabat saya ini juga punya keahlian membuat bros dan mendapatkan penghasilan.  Namun mendidik dan merawak ketiga anak tentu memerlukan stamina dan kemampuan luar biasa. Semoga ia diberikan kemudahan untuk mendidik dan merawat putra-putrinya menjadi shalih dan shalihah.
Berita kematian yang berulang membuatku kembali berpikir: sudah cukup bekal menghadapNya? seperti apa kelak ingin dikenang? 

No comments:

Post a Comment