Google+ Followers

Thursday, August 31, 2017

Ketika Tak Lagi Mampu Membayar Premi Asuransi (Jiwa)

Tiga tahun lalu kondisi finansial keluarga kami benar-benar goyah. Saya tak lagi mendapat penghasilan dari gaji sejak resgin di akhir tahun 2012. Tak dinyana kami mendapat ujian cukup besar, tak lama kemudian suami terPHK dengan pesangon tak seberapa dan tak kunjung mendapat pekerjaan. Dan ....berlanjut ke musibah kecelakaan jatuh dari atap rumah sehingga terpaksa pinjam uang ke kakak ipar untuk biaya operasi.

Hari demi hari pesangon tersebut tergerus untuk cicilan motor, biaya sekolah dan makan. Malah sempat juga menjual televisi dan hadiah kuis berupa helm. Alhamdulillah begini rasanya "makan helm" hehehehe. Masih tetap bersyukur di saat sulit kami tak menanggung cicilan KPR. Bayangkan jika harus puyeng mikir bayar kredit motor sekaligus cicilan KPR di saat tidak ada penghasilan pasti. Tapi yang menjadi ganjalan saat itu adalah: bagaimana cara membayar premi asuransi jiwa atas nama suami?

Ya, kami memang memiliki asuransi jiwa atas suami. Bayar preminya patungan dari gaji saya dan beliau setiap enam bulan sekali. Ketika saya memutuskan berhenti bekerja suami sempat satu kali membayar premi dari menyisihkan gajinya sendiri. Tapi saat tak ada lagi yang punya gaji, penghasilan saya sebagai freelance pun tak pasti? Untuk biaya hidup saja susah apalagi untuk bayar premi. Telat bayar pastinya kena pinalti. Masa harus menanggung utang dan mikirin denda sih. 

Dulu memutuskan ikut asuransi jiwa ini karena berbagai pertimbangan:
1. Perusahaan asuransinya terpercaya, sudah senior di Indonesia.
2. Kantor distribusinya merata di kota besar. Kebetulan rumah kami dekat dengan Surabaya
3. Officernya ramah, layanannya cukup mudah. Kebetulan yang memperkenalkan produk ini kenalan suami saya sendiri.
4. Niatnya nabung. Kewajiban membayar premi kan memaksa kami menyisihkan uang agar tidak terkena pinalti.

Daripada gundah akhirnya suami memutuskan menghadap marketing yang dulu menawarkan produk asuransi jiwa tersebut sebelum saatnya membayar premi lagi.

Alhamdulillah bersyukur ada titik terang dan solusi terbaik. Sosok marketing yang ramah tersebut menyarankan agar produk tersebut ditransfer menjadi produk "deposito". Artinya kami tak lagi diwajibkan membayar premi, tidak ada pinalti tetapi premi yang tersimpan dari pembayaran sebelumnya tidak dapat diambil sampai masa jatuh tempo. Kami juga tak perlu menyetor sejumlah uang seperti layaknya menabung. Intinya kami membuka *deposito* dengan nominal senilai pembayaran premi yang telah terkumpul sebelumnya.

Syarat pemindahan produknya ngga rumit, prosesnya pun tidak berbelit. Bagaimana proses pencairannya? Kebetulan pertengahan tahun ini saatnya mencairkan dana deposito asuransi tersebut. Jumlahnya nggak terlalu banyak tetapi insyaAllah cukup untuk melunasi hutang biaya operasi siku suami tiga tahun lalu yang tak kunjung kelar hingga kini.

Sejujurnya saya baru tau ada produk asuransi yang bisa dialihfungsi seperti ini. Sangat membantu nasabah yang sedang dirundung kesulitan finansial.

Alhamdulillah lagi proses pencairannya tidak rumit. Hanya beberapa menit. Pertengahan September ini uang yang dijanjikan bakal cair di rekening kami, sekedar mampir untuk ditransfer ke rekening kakak ipar demi melunasi hutang :)

2 comments:

  1. Alhamdulillah ikut lega mbak, untungnya pihak agen bisa memberi solusi ya.

    ReplyDelete
  2. Semoga rezeki Mbak Wi dan keluarga selalu dicukupkan Allah.

    ReplyDelete