Google+ Followers

Thursday, September 14, 2017

Logika Muslim Tentang Rezeki

Hari ini kami dikejutkan lagi dengan kabar nggak enak. Nggak enak di mata manusia tapi mungkin ini yang terbaik di hadapan Allah. Selama lebih dari 15 tahun menikah memang saya hampir tak pernah mendengar kabar gembira dari suami, kalau nggak PHK ya sakit keras sampai menghabiskan banyak biaya >> kata setan

Tetapi ahlul musibah dijanjikan Allah kemudahan di akherat >> bisik malaikata via tausyiah pak Ustadz.

Setan dan malaikat bersaing mendapatkan perhatian di kepala dan benak saya. Entah siapa yang menang pada akhirnya tapi kami putuskan untuk berpasrah diri pada Allah Sang Maha Kuasa.

Kabar apa lagi sih yang dibawa suami? kabar tentang kantornya yang mengadakan rasionalisasi. Gegara kalah tender dari satu proyek besar lalu terpaksa mengurangi banyak karyawan atau mengirim karyawannya mutasi ke luar provinsi. Suami kena yang kedua, dimutasi keluar provinsi. Beratnya karena tidak ada tambahan fasilitas atau penghasilan padahal harus keluar biaya ekstra: kost dan biaya hidup sekaligus untuk tiga pintu (suami, saya dan si bungsu dan si mas di pondok). Mau ngikut pindah sekeluarga suami saya malah melarang lha wong dia saja sebenarnya enggan. Iya sih di tempat kami tinggal sekarang sudah cukup nyaman, dekat masjid, disediakan makam khusus warga perumahan dan alhamdulillah lingkungan tetangga ukhuwwahnya juga kuat.

Pada awalnya suami saya berniat mengundurkan diri saja, tentu tanpa pesangon karena ia pegawai kontrakan lalu ngojek online. Hmm tapi bagaimana wong umurnya tak lagi muda, baru beberapa bulan lalu sakit parah dan tidak pernah lagi check up. Apa kira-kira nggak makin susah.

Mungkin hikmah dari sholat Ied di kampus Unida tempo hari adalah agar kami, terutama saya belajar lagi mengenai logika muslim tentang rezeki - intisari dari khotbah Iedul Adha. 

Beberapa poin khotbah yang mengusik kalbu saya:

1. Allah yang maha memberi rezeki
2. Kadar rezeki tiap makhluk telah dijamin dan ditentukan 
3. Walau kadar rezeki sudah ditentukan namun wajib bagi muslim utk mengupayakan dan mencari rezeki.
QS: Jumuah 10.
4. Ciri seorang mukmin adalah totalitas dlm bekerja tanpa mendzalimi orang lain
 Qs Yusuf 87. 
5. Dilarang berputus asa
Al ankabut 69
Keyakinan; jika kita memperhatikan dan memperjuangkan hak hak Allah maka Allah akan memperhatikan kita

Khotbah 2. Bagi seorang muslim berqurban adalah satu-satunya jalan logis
Sebab Allah menjanjikan rezeki melebihi yang dibayangkan manusia yang hanya dapat ditempuh dengan jalan ketaqwaan

Banyak kemungkinan yang sedang dan akan kami jalani. Mungkin ujian hidup kesekian kali adalah teguran karena kami telah melalaikan hak-hak Allah. Atau mungkin malah kemudian hari jalan yang terjal ini ternyata merupakan yang terbaik bagi kami. Lha ya bisa saja dalam waktu dekat terjadi keajaiban, mutasi dibatalkan atau suami bisa mendapat pekerjaan baru yang lebih dekat rumah atau kami bisa membuka bisnis baru. 

Ah sudahlah tak usah berandai-andai

Manusia ...bisa apa..hanya sekedar makhluk yang tak punya kuasa. Maka yang terbaik adalah berserah diri pada Sang Maha Kuasa. 
Belajar sabar
Belajar nggak nggrundel
Belajar tawakal
Lha memang manusia terus belajar sampai masuk liang kubur.

Bismillah semoga Allah kuatkan langkah kami dan menguatkan tekad suami yang sebenarnya baru saja berhijrah dengan belajar membaca Al Quran di program Wani Ngaji. Alamat ngga bisa ngaji bareng ustadznya lagi ...padahal butuh waktu 16 kali pertemuan untuk tamat program ini.
Sekali lagi manusia bisa apa ...kalau pun merasa berat yang bisa dilakukan hanya memohon untuk dikuatkan. Asal ngga pakai demonstrasi pada Yang Maha Memiliki termasuk memiliki jiwa raga ini. 

No comments:

Post a Comment